LOMBA BLOG EDUCATION with ITuptti.unej.ac.id
Belajar Menulis Catatan Harian
Ditulis tanggal : 04 - 10 - 2011 | 21:32:25
“Kini ada simbol Mercy di perut saya...“
SEBARIS KALIMAT itu tertulis pada sampul depan buku Ganti Hati
(JP BOOKS, 2007). Buku yang berisi catatan harian Pak Dahlan Iskan
(sebagai CEO Grup Jawa Pos–sekarang CEO PLN) ketika menjalani
transplantasi liver di Rumah Sakit Di Yi Zhong Xin Yi Yuan, Kota
Tianjin, Tiongkok.
Membaca
buku Pak Dahlan Iskan membuat saya sadar akan keteguhan prinsip dalam
kehidupan. Sebuah kisah perjuangan juragan koran asal Magetan, Jawa
Timur, saat bertahan hidup dari ancaman penyakit kanker hati yang
mematikan.
Bersama
tim yang dibentuknya, Pak Dahlan Iskan mencoba hidup rasional diantara
dua pilihan: menderita sirosis dengan terus menjalani kemoterapi atau
memilih melakukan transplantasi liver dengan resiko yang amat tinggi.
Kita tentu masih ingat cerita Cak Nur (Nurcholish Madjid) yang wafat
pada 19 Juli 2004, setelah melakukan transplantasi liver di Dongguan,
Tiongkok.
Saya
sejenak berhenti membaca di separuh sisa halaman. Saya kembali
bertanya-tanya. Setelah 20 hari pascatranplantasi, mengapa Pak Dahlan
Iskan kok masih sempat menuliskan sendiri pengalaman
hariannya? Apakah Pak Dahlan Iskan punya “travo cadangan” dalam
tubuhnya? Bukankah menulis adalah pekerjaan yang sangat memeras otak
dan melelahkan pikiran?
Saya
menemukan jawabannya pada halaman 171-176. Pak Dahlan Iskan memang
memiliki “DNA” wartawan sejati. Buktinya, meski sudah pensiun menjadi
wartawan, toh tetap saja Pak Dahlan Iskan masih kuat menulis
catatan harian secara spartan. Melalui kelakar khasnya, Pak Dahlan
Iskan menulis, “... Tidak semua orang bisa menulis dengan baik. Karena
itu, harus wartawan yang menuliskan ceritanya. Karena itu, saya harus fair. Ketika saya mengalami itu (transplantasi liver), saya harus mau menuliskannya”.
Singkat
cerita, sejak kecil Pak Dahlan Iskan sudah bergelut melawan kemiskinan
“rame-rame” di kampungnya. Tidak hanya itu, kondisinya masih
diperparah lagi dengan penyakit liver turunan dari jalur keluarga besar
ibunya. Pak Dahlan Iskan sadar bahwa usianya di dunia ini mungkin juga
tidak akan lama lagi. Hal ini mengingat riwayat penyakit liver yang
telah merenggut nyawa satu per satu anggota keluarganya.
Kondisi
inilah yang membuat Pak Dahlan Iskan betah bekerja keras puluhan tahun
membangun perusahaan koran. Pak Dahlan Iskan juga tidak gampang
mengeluh menghadapi berbagai rintangan kehidupan. Malah, Pak Dahlan
Iskan terkesan menyederhanakan berbagai permasalahan. Toh,
cepat atau lambat pada akhirnya beliau akan bernasib sama dengan
kerabatnya. Berbuat total dan maksimal di setiap titik kehidupan adalah
sebuah pilihan yang paling rasional.
Membaca
bab demi bab, saya seperti menyaksikan sendiri apa yang dialami Pak
Dahlan Iskan. Misalnya, saat membaca sepertiga bagian awal bukunya.
Tiba-tiba, saya larut dan terbawa suasana menjelang detik-detik operasi
transplantasi liver. Di bagian yang lain, meski hanya sebagai pembaca,
saya bisa tampak gugup ketika menyimak proses penanganan
pascatransplantasi.
Cerita
hidup Pak Dahlan Iskan mengajarkan saya banyak hal tentang kehidupan.
Terutama, arti kerja keras sebagai wujud rasa syukur dalam mengisi umur
yang singkat. Pak Dahlan Iskan menyebut konsep hidupnya ini dengan
istilah “intensifikasi umur”.
Jawa Pos telah memuat cerita Pak Dahlan Iskan berseri selama 33 hari berturut-turut.
Tercatat mulai tanggal 26 Agustus sampai 27 September 2007. Cerita ini
berisi pengalaman hidup manusia Indonesia yang langka. Barangkali,
hanya bisa ditulis secara apik dan kocak oleh orang yang mempunyai jiwa
wartawan sejati dengan stamina yang teruji.
Hanya
berselang sebulan, kumpulan cerita Pak Dahlan Iskan itu telah
dibukukan. Saya tidak perlu menunggu lama untuk membaca ulang tulisan
Pak Dahlan Iskan. Buku Pak Dahlan Iskan juga diterjemahkan dalam dua
bahasa asing: Mandarin dan Inggris.
Ketika
masih dimuat sebagai cerita bersambung di koran, saya juga rajin
mengikuti semua seri tulisan Pak Dahlan Iskan. Kadang, saya membacanya
di rumah teman, di kios koran, di perpustakaan kampus, di ruang antrian
bank, dan tentu saja di rumah.
Gaya
menulis Pak Dahlan Iskan membuat saya jatuh cinta kepada dunia
kepenulisan. Gaya menulis ringan ala Pak Dahlan Iskan selalu saya
jadikan acuan kepenulisan.
Jenis tulisan apakah yang digunakan Pak Dahlan Iskan dalam menulis catatan harian?
***
SEBAGAI PEMBACA
koran yang awam, tentu saja saya penasaran dengan jenis tulisan apa
yang digunakan oleh Pak Dahlan Iskan. Saya pun bertanya-tanya kepada
rekan-rekan penulis yang sudah berpengalaman. Tak cukup sampai di situ,
saya pun mencari jawaban melalui buku-buku teori jurnalistik dan
kepenulisan yang saya koleksi.
Untuk itu, saya perlu membaca kembali buku-buku Seri Jurnalistik Kompas: Catatan-Catatan Jurnalisme Dasar (PBK, 2005), Kalimat Jurnalistik: Panduan Mencermati Penulisan Berita (PBK, 2004), 6 Langkah Jitu Agar Tulisan Anda Makin Hidup dan Enak Dibaca (GPU, 2002), Berani Menulis Artikel: Babakan Baru Kiat Menulis Artikel untuk Media Massa Cetak (GPU, 2006) dan Jurnalisme Sastra (GPU, 2002).
Setelah saya telusuri, apa yang ditulis Pak Dahlan Iskan adalah feature. Selama ini, saya sekadar mengenal koran hanya dari jenis berita lugas (hard news)
saja. Sejak membaca catatan harian Pak Dahlan Iskan, saya baru tahu
bahwa pengalaman yang berkesan bisa ditulis dengan ringan dan menarik.
Itulah yang dimaksud dengan feature.
Feature menurut penjelasan dari berbagai literatur yang saya baca, termasuk jenis berita halus (soft news). Berita yang ditulis secara kreatif, naratif dan khas. Bila kita amati tulisan-tulisan feature di media massa, unsur kemanusiaan yang disajikan begitu terasa.
Karena
itu, saya tidak perlu ragu lagi saat mulai menulis catatan harian.
Sebab, secara kode etik jurnalistik sudah bisa dipertanggungjawabkan.
Catatan harian itu saya tulis berdasarkan apa yang pernah saya lihat,
saya dengar, dan saya rasakan berdasarkan kejadian. Bahkan, guru bahasa
Indonesia saya ketika SMP pernah mengatakan bahwa keberadaan buku
harian dapat membantu polisi dalam mengungkap teka-teki dalam sebuah
kasus pembunuhan.
Saya jadi ingat masa kecil saya ketika menikmati gaya bertutur feature.
Bapak saya dulu senang bercerita apa saja untuk menemani saya
berangkat tidur. Guru SD saya, Pak Asmat, malah mempunyai stok cerita
yang tak kalah menariknya bila bercerita di depan kelas. Meskipun
demikian, bapak saya dan Pak Asmat memiliki gaya khas yang berbeda-beda
dalam bercerita.
Karakter tulisan feature pun demikian rasanya. Feature
adalah cerita yang bersandar pada fakta yang ditulis secara detail dan
mendalam. Fakta yang ada disusun berdasarkan subyektivitas penulis
melalui sudut pandang orang pertama. Disela-sela cerita itu, biasanya
diselipkan satu dua kutipan omongan orang. Kalimatnya ditulis
pendek-pendek supaya pembaca tidak merasa capek. Foto biasanya
diselipkan di samping tulisan guna memperkuat kejadian yang
dideskripsikan.
Saya
sekarang jarang mendengarkan lagi cerita lisan seperti halnya dulu
dilakukan bapak saya dan Pak Asmat. Barangkali, keberadaan media massa online
sudah menggeser posisi mereka sebagai sumber cerita. Media massa
mengemas cerita tentu tidak dalam bentuk lisan, melainkan sudah dalam
bentuk tulisan. Biasanya, tulisan cerita yang menarik dan enak dibaca
itu ditulis oleh wartawan dan penulis profesional melalui kolom-kolom
yang tersedia di koran.
Setiap media massa menulis feature dengan gaya selingkung yang berbeda-beda. Saat membaca feature Jawa Pos,
saya sering menemukan kosa kata Jawa Timur yang dicetak miring oleh
redaktur koran. Membaca koran nasional dari Jawa Timur membuat saya
berada di kampung halaman.
Sejauh ini, saya belum menemukan kosa kata asli daerah saya ketika membaca feature di koran-koran nasional yang lain. Karena itu, tanpa bermaksud melebihkan, membaca feature Jawa Pos, membuat
saya merasa dekat dengan budaya sosial yang ada di kampung halaman.
Rasanya, seperti menikmati gaya bertutur bapak saya yang sedang asyik
bercerita.
Saya
rasa, ada sisi positifnya bila kita sering mendengarkan dan membaca
cerita. Sebab, dengan begitu, kita terpacu untuk melakukan hal yang
sama: membagi kisah melalui media yang ada.
Namun, persoalannya adalah bagaimana cara menuliskan ceritanya?
***
SAKING SENANGNYA membaca tulisan feature
milik Pak Dahlan Iskan, saya semakin semangat menulis pengalaman hidup
saya dalam buku harian. Saat masih aktif kuliah, saya belajar menulis
catatan harian yang ringan tentang dunia pendidikan, ekonomi perkotaan,
dan penerbitan. Saya bercerita tentang segala peristiwa yang saya
alami dan rasakan secara runtun dan gamblang.
Saya
tidak pernah berpikir, saat menulis catatan harian itu, apakah
nantinya akan membawa manfaat bagi masyarakat luas atau tidak. Demi
menambah wawasan tentang seluk-beluk kepenulisan, saya pun diam-diam
mengikuti beberapa kali pelatihan jurnalistik dan kepenulisan.
Kemudian, saya belajar membuat tulisan yang tidak terkesan menggurui,
tidak menyinggung perasaan orang, dan bisa diterima berbagai kalangan.
Sejak
SD saya sudah suka menulis. Guru saya seringkali memberi tugas menulis
karangan untuk mengisi jam kosong pelajaran. Saya juga pernah dikirim
sekolah untuk mengikuti lomba menulis esai tingkat lokal. Ketika itu,
sebagai peserta pemula, saya mempunyai waktu dua jam untuk menulis di
atas kertas folio bergaris dengan tema yang sudah ditentukan.
Alhamdulillah, saya akhirnya menang dan mendapatkan juara dua tingkat
kecamatan meskipun tanpa sambutan dan perayaan.
Saya
begitu menikmati saat-saat menulis catatan. Saya betah duduk seharian
di depan komputer untuk menggarap satu tema tulisan. Saya merasa senang
belajar menyusun kalimat demi kalimat yang pas. Saya berlatih
mengungkapkan sebuah gagasan atau pemikiran yang lugas dan bernas.
Bagi
saya, menulis bukanlah soal hitungan matematika yang dibatasi dengan
notasi angka. Menulis adalah kondisi dimana jiwa kita merasa bebas
berlogika melalui kata-kata. Saya kelak ingin meninggalkan dunia ini
dengan warisan tulisan yang menggugah jiwa; meninggalkan pesan-pesan
yang mendalam tentang hakikat kemanusiaan.
Saya
percaya bahwa setiap manusia mampu menulis cerita hidupnya dengan gaya
yang khas. Sebab, manusia pada dasarnya adalah novel yang sedang
berjalan. Setiap manusia membawa langkah dan kisah otentik kehidupannya
masing-masing. Dan, setiap manusia pasti memiliki sudut pandang yang
berbeda-beda tentang bagaimana memaknai kehidupan yang sedang
dilakoninya.
Lantas, bagaimana cara menulis catatan harian yang baik?
***
CERITAKANLAH SETIAP
jengkal peristiwa yang berkesan dalam buku harian. Menulis catatan
harian melatih kita berbagi harapan dalam mimbar kemanusiaan. Menulis
catatan harian bukan sebuah pekerjaan yang harus dipaksakan. Menulis
catatan harian merupakan panggilan hati yang memberi arti diri
menyangkut profesi.
Konon,
menulis catatan harian bisa menjadi terapi kejiwaan menghadapi realita
kehidupan. Sebab, catatan harian bisa menjadi jembatan yang
menghubungkan harapan dan kenyataan. Selain itu, menulis catatan harian
bisa membuat jiwa kita terlatih sebagai wartawan kehidupan. Wartawan
yang menulis untuk mimbar kemanusiaan tanpa bayaran.
Saya
sebenarnya bingung bila bercerita panjang mengenai hal-hal teknis
kepenulisan. Sebab, saya memang bukan ahli bahasa yang pandai berbicara
definisi. Juga bukan ahli sastra yang sanggup mengurai dengan fasih
berbagai macam teori literasi.
Saya
malah jarang sekali mengikuti sayembara menulis secara terbuka. Sebab,
saya lebih senang berbagi pengalaman hidup yang saya rasakan dalam
catatan harian. Biasanya, bahan-bahan tulisan yang berserakan saya
ketik ulang secara perlahan-lahan. Saya kumpulkan berdasarkan tempat
dan tanggal kejadian. Bila ada waktu luang, supaya tulisan enak dibaca,
saya sunting berulang-ulang. Bila sudah rampung dan momentumnya tepat,
saya kirim tulisan tersebut ke media massa lokal tedekat.
Belajar
menulis anggap saja seperti orang yang hendak belajar berenang.
Praktikkan saja langsung di kolam renang! Berenanglah sesuai dengan
tingkat kemampuan dan kedalaman kolam secara berulang-ulang. Kelak,
kita akan menemukan gaya berenang yang pas dengan sendirinya. Sebab,
berenang adalah sebuah keterampilan dan kebutuhan kehidupan. Bukan
melulu bakat alam yang hanya dimonopoli para atlet kenamaan.
Seandainya
rumah kita berada di pinggir sungai yang besar, suka atau tidak suka,
kita akan terbiasa dengan kondisi alam. Mandi biasanya di sungai,
mencuci biasanya di sungai, dan berenang bersama kawan-kawan biasanya
juga di sungai. Mencari ikan untuk makan hingga–maaf–buang hajat pun
biasanya juga di sungai. Kondisi geografi alam yang demikian membuat
kita untuk “terbiasa” dalam menjalani kehidupan.
Kondisi
serupa, saya rasa, seperti kehidupan kita sekarang. Kehidupan ketika
segala arus informasi menjadi tuntutan sekaligus kebutuhan. Kehidupan
yang suka atau tidak suka membuat kita mesti belajar membaca dan
menulis untuk bisa tetap eksis. Kehidupan yang membuat kita terbiasa
dengan berbagai macam pemikiran melalui bacaan dan tulisan.
Bukankah
segala macam informasi mayoritas kini terdokumentasikan secara
tertulis? Buku, jurnal, majalah, koran adalah wahana tulisan di dunia
nyata yang sering kita baca berulang-ulang. Kita juga mulai akrab
dengan informasi tertulis dari dunia maya: jejaring sosial, blog dan website. Segala macam bentuk informasi itu tertulis dan tersedia dengan berbagai macam bahasa.
Bila
sekarang kita tidak bisa “berenang”—mencerna informasi dari berbagai
macam bahasa dan menuliskan kembali sesuai bidang profesi—, maka lambat
laun kita akan “tenggelam” dalam kolam raksasa pemikiran zaman. Kita
juga nantinya akan terkurung dalam “alam kegelapan” dan “terkucilkan”
dari hiruk pikuk pembangunan peradaban. Untuk itulah, sebagai umat
muslim, membuat tulisan yang jernih adalah sarana dakwah yang relevan
dalam kehidupan.
Tanpa
tulisan, kita tidak akan pernah memiliki lembaran sejarah kehidupan.
Tanpa tulisan, kita tidak akan pernah berbagi pengalaman yang
mencerahkan kehidupan.
Adakah contoh catatan harian lain yang dibukukan selain milik Pak Dahlan Iskan?
***
SAAT MEMASUKI semester pertama kuliah, akhir tahun 2004, saya sering membaca buku Catatan Seorang Demonstran (LP3ES,
1983), catatan harian milik Soe Hok Gie yang telah dibukukan. Saya
meminjam berbulan-bulan buku setebal 494 halaman milik perpustakaan
kampus. Buku itu selalu saya bawa dalam tas ketika berangkat kuliah dan
saya baca berulang-ulang di waktu senggang.
Bagi
saya, Soe Hok Gie adalah sosok anak muda idealis yang memegang teguh
prinsip hidup yang diyakininya. Ia mencari kebenaran sejati melewati
berbagai macam pemikiran, perenungan, dan pertentangan dalam diri
sebagai aktivis mahasiswa yang kritis. Ia tumbuh, berkembang, dan
berteriak lantang perihal kemanusiaan saat orde lama mendekap tampuk
kekuasaan.
Saya
sempat mengagumi sepak terjang mahasiswa Sejarah UI yang mati muda
itu. Sampai-sampai, saya pernah mengkliping beberapa kalimat heroiknya.
Lalu, saya ketik ulang dan saya tempelkan di belakang sampul buku
catatan kuliahan.
Meskipun
demikian, saya tak begitu setuju dengan cara-cara Soe Hok Gie
melontarkan kritik kepada pihak-pihak yang tak lagi sejalan dengan
jalur perjuangannya. Bagi saya, catatan harian Soe Hok Gie–pada
beberapa bagian–terlalu vulgar dalam mengkritik rezim kekuasaan. Sebab,
tidak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini, termasuk diri kita
sendiri sebagai penulis dalam melihat realita dunia.
Selain Catatan Seorang Demonstran-nya
Soe Hok Gie, masih banyak catatan harian lain yang bisa menginspirasi
kita dalam menulis catatan harian. Misalnya, catatan harian berjudul Pergolakan Pemikiran Islam
(LP3ES, 1981) yang ditulis Ahmad Wahib. Bagi rekan-rekan penulis yang
gemar menggeluti dunia filsafat keagamaan dalam bingkai kemanusiaan,
catatan harian Ahmad Wahib bisa menjadi teman pengantar yang nyaman.
Bagi
rekan-rekan penulis yang menaruh minat akan tema perjuangan kaum
wanita pribumi, tengoklah kembali buku korespondensi milik R.A.
Kartini. Buku itu berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang (Door
Duisternis tot Licht): Kumpulan Surat R.A. Kartini yang Menginspirasi
Wanita-Wanita di Sepanjang Masa (Narasi, 2011). Membaca buku itu
membuat kita tahu betapa luasnya pemikiran R.A. Kartini dalam
memperjuangkan pendidikan kaum wanita di zaman penjajahan Belanda.
Selain
itu, masih ada catatan harian yang berisi petualangan alam yang
memukau. Bagi rekan-rekan penulis yang gemar berwisata alam jangan
melupakan tulisan-tulisan feature petualangan mahasiswa Mapala
UI, Norman Edwin, yang populer pada era 1980 sampai 1990-an. Sekarang
ini, jejak petualangan almarhum Bang Norman Edwin sudah dibukukan dan
diberi judul Norman Edwin: Catatan Sahabat Sang Alam (KPG, 2010).
Dan masih banyak macam catatan harian lain yang bisa kita jadikan cermin kehidupan. Dari luar negeri, sebut saja buku Catatan Harian Anak Sarajevo (Kanisius, 2008) milik Nadja Halilbegovich. Juga, ada buku Catatan Harian Anne Frank (Jalasutra, 2006) milik Anne Frank–judul asli The Diary of A Young Girl (1947)–yang membuka mata batin kemanusiaan. Melalui catatan hariannya, Anne Frank dikukuhkan majalah Time sebagai salah satu tokoh berpengaruh di abad ke-20.
Catatan
harian pada hakikatnya adalah sebuah ruang kesaksian. Ruang kesaksian
yang dikumandangkan dengan suara lantang tanpa kekangan. Ruang
kesaksian yang merekam detail perjalanan, perjuangan, pemikiran, dan
harapan setiap insan dalam lekukan zaman.